Kenaikan harga BBM selalu menimbulkan demonstrasi rakyat terhadap pemerintah. Bukan hanya harga BBM, namun ketika harga kebutuhan pokok juga melonjak keresahan rakyat pun tak bisa dihindarkan. Kemudian pemerintah memberikan solusi dengan cara memberikan subsidi BBM untuk meringankan pengeluaran rakyat kecil. Subsidi BBM sangat dirasakan manfaatnya bagi mereka rakyat kecil, akan tak jarang mereka yang dari kalangan atas juga ikut merasakan manisnya subsidi. Sungguh ironi ketika mereka yang bermobil mewah tanpa peduli memanfaatkan subsidi yang seharusnya untuk rakyat kecil. Itu berarti subsidi yang diberikan oleh pemerintah tidak tepat sasaran. Dari kalangan elit terlebih dahulu yang sudah sepatutnya sadar akan pemanfaatan subsidi untuk siapa. Penyelanggaraan subsidi memang bertujuan untuk menyejahterakan rakyat, terutama rakyat kecil. Namun apabila penarikan subsidi itu akan terasa pahit di awal dan manis di akhir maka rakyat kecil jugalah yang harus menanggung resikonya, karena harga kebutuhan pokok pun menjadi naik akibat penarikan subsidi tadi. Penarikan subsidi yang nantinya akan berbuah manis itu bisa dilaksanakan sesuai aturannya, yaitu jika penarikan subsidi itu dialihkan ke bidang-bidang infrastruktur, pendidikan, dan sektor usaha. Pun dengan anggaran subsidi tersebut yang harus transparan dan dialokasikan sesuai dengan perencanaan. Segala bentuk penyimpangan seperti korupsi dan lain sebagainya jangan sampai terjadi, karena akan fatal dan menyebabkan rakyat kecil semakin menderita. Oleh sebab itu, pemahaman empatis perlu dibangun umtuk mereka supaya memposisikan dirinya sebagai rakyat kecil untuk mencarikan solusinya atas permasalahan yang terjadi. Seperti gaya blusukan Jokowi yang merupakan bagian dari pemahaman empatis. Dari blusukan itulah kita merasakan apa yang mereka rasakan dan mencaritemukan solusi terbaik untuk mereka. Bukan sekedar pencitraan saja, tetapi blusukan itu juga harus beriringan dengan solusi yang akan dilakukan. Demikian juga halnya dengan permasalahan yang sedang kita hadapi saat ini yaitu melemahnya rupiah, melalui pemahaman empatis inilah kita diharapkan mampu mewujudkan solusi yang fungsional dan bermakna.
Untuk dia yang tersayang Untuk dia yang selalu ada untukku Untuk dia yang ingin kubahagiakan Untuk dia yang memberiku kedamaian Untuk dia yang memberiku kenyamanan Tenanglah, aku sedang berjuang Aku sedang melangkah ke depan Aku sedang melawan godaan Meski rintangan menghadang Aku akan tetap berjuang Mendapatkan yang selama ini kuimpikan Seperti mendapat satu bintang diantara beribu bintang Dan kupersembahkan untukmu, yang tersayang *Untuk Bapak, Mama, Mas Apip, dan Mas Ahmad
Komentar
Posting Komentar